Selasa, 27 Oktober 2015

INTISARI KITAB 1 SAMUEL

"Kisah Transisi Kepemimpinan Sebuah Bangsa"

Menurut tradisi Yahudi, sebagian kitab Samuel yang pertama ("Sefer Shmuel") ditulis oleh Samuel dengan tambahan catatan dari penulis lain, yaitu Natan dan Gad. (1 Taw. 29:29).
Peristiwa yang dicatat dalam kitab itu berlangsung selama kira-kira seratus tahun, yaitu sejak tahun 1100 hingga tahun 1000 SM.

Pada mulanya Samuel 1 dan 2 merupakan satu kitab tetapi kemudian dalam Septuaginta pada abad kedua sebelum Kristus, kitab itu dipisahkan menjadi dua kitab.

Kitab ini adalah kitab tentang transisi, yaitu pengalihan pemerintahan bangsa.
Dalam kitab Samuel pertama kita membaca tentang kesudahan masa pemerintahan hakim-hakim di bawah Nabi Samuel dan permulaan kerajaan Israel di bawah pemerintahan Raja Saul. Israel berubah dari sebuah kumpulan kelompok suku-suku yang dipimpin para imam menjadi satu bangsa yang dipimpin oleh seorang raja.

Ada dua bagian dalam kitab Samuel: pelayanan Samuel (pasal 1-12) dan pemerintahan Saul (pasal 13-31).
Dalam bagian yang kedua, Daud juga diperkenalkan sebagai raja yang diurapi yang akan menggantikan Saul.
Dalam sejarah Israel itu, kita melihat bahwa Tuhan berkuasa dalam kehidupan umatNya walaupun manusia tetap gagal dalam menggenapi panggilanNya.

Dalam edisi ini, kita akan mempelajari bagian-bagian dari kitab 1 Samuel ini.

Kelahiran Samuel: Pasal 1-3.
Kitab ini dimulai dengan kelahiran ajaib Samuel sebagai jawaban doa seorang wanita yang mandul, Hana. Doa Hana bersifat nyanyian nubuatan yaitu mazmur profetis. Dalam mazmurnya dideklarasikan bahwa Allah meninggikan yang rendah, menegakkan orang yang hina dan mengangkat orang yang miskin. Allah memutar-balikkan aturan manusia supaya Ia yang dipermuliakan, supaya umat yang percaya kepadaNya dipelihara dan dibenarkan serta musuhNya dibinasakan. Itulah sebabnya, di sepanjang kitab ini, kita melihat begitu banyak contohnya.
Hana yang mandul ditinggikan atas Penina, Samuel ditinggikan atas Eli dan anaknya yang jahat, orang Filistin ditinggikan atas Bangsa Israel sewaktu Bangsa Israel meninggalkan Tuhan (pasal 4), Dagon ilah orang Filistin direndahkan di hadapan tabut perjanjian, Bangsa Israel menang atas orang Filistin sewaktu mereka percaya kepada Tuhan (pasal 7), Saul seorang penakut dan tidak berarti ditinggikan menjadi raja (pasal 9-11), Yonatan ditinggikan atas ayahnya sewaktu Saul bersandar kepada kekuatan dirinya (pasal 13-14), Saul direndahkan oleh Samuel yang memberitahukan bahwa kerajaannya telah diambil daripadanya (pasal 15), Daud anak yang termuda ditinggikan menjadi raja (pasal 16) dan menang atas Goliat yang raksasa (pasal 17), serta Daud ditinggikan atas Saul (pasal 17-30).

Kembali kepada topik awal kitab. Doa Hana didengar Tuhan dan Samuel lahir. Nama Samuel bermakna “Allah mendengar.”
Ia diserahkan kepada Tuhan dan dibesarkan dalam bait Allah oleh Eli, seorang imam besar. Samuel dipanggil menjadi seorang nabi dan nubuatan pertama yang harus disampaikannya adalah untuk memberitahukan hukuman yang akan jatuh atas imam-imam yang jahat (1 Sam. 3:19-21).
Samuel merupakan hakim terakhir di Israel, sekaligus juga berfungsi sebagai imam dan nabi. Dalam pelayanannya ia mendirikan ”sekolah nabi-nabi”, yaitu sekumpulan nabi yang kepenuhan dengan Roh dan dikepalai oleh Samuel (1 Sam. 10:5-12).

Tabut perjanjian, lambang hadirat Tuhan: Pasal 4-7.
Salah satu benda yang sangat bermakna dalam kehidupan Bangsa Israel adalah tabut perjanjian. Tabut perjanjian dibuat untuk berdiri di tempat maha kudus dalam tabernakel Musa. Di situlah terletak kemuliaan dan hadirat Allah. Bencana besar terjadi waktu Bangsa Israel memperlakukan tabut seperti jimat, di mana mereka dikalahkan dan tabut perjanjian itu jatuh ke tangan orang Filistin. Bangsa Israel berpikir bahwa benda itu menjamin kemenangan mereka, tetapi mereka tidak menyadari dan mengenal hadirat, kekudusan dan kemuliaan Tuhan yang sesungguhnya. Selanjutnya, mereka menyaksikan kuasa Allah menghukum orang Filistin dan dewa mereka, Dagon. Orang Filistin terpaksa mengakui kuasa Allah orang Israel dan mereka mengembalikan tabut perjanjian itu kepada Israel.

Permintaan Bangsa Israel untuk dipimpin oleh seorang raja: Pasal 8.
Israel menuntut seorang raja supaya mereka menjadi seperti semua bangsa lain. Samuel tidak senang dengan permintaan ini, tetapi Tuhan menyuruhnya untuk mengurapi Saul, seorang pria berperawakan tinggi dan gagah, sebagai raja mereka (1 Sam. 10:17-25).
Padahal permintaan akan seorang raja adalah permintaan yang didasarkan pada dosa menolak Tuhan. Di satu sisi, Samuel diperintahkan Tuhan untuk menetapkan seorang raja, (1 Sam. 8:7, 9, 22; 9:16–17; 10:24; 12:13); padahal, Bangsa Israel sedang menolak Tuhan dan membawa bencana atas diri mereka sendiri (1 Sam. 8:7; 10:19; 12:12,17,19–20).

Samuel mengurapi Saul: Pasal 9-15.
Pada waktu Saul diurapi, ia seorang yang rendah hati dan mulai bertindak dengan baik. Namun ia mulai mengambil langkah-langkah yang menuju kepada penghancurannya. Ia mulai dengan baik dengan mengalahkan musuh, yaitu tentara Amon (1 Sam. 11).
Kemudian ia menjadi kurang sabar dan mempersembahkan korban walaupun itu bukan haknya dan bukan tanggung jawabnya (1 Sam. 13), ia mengadakan nazar yang merugikan dengan mengucapkan kutuk atas siapapun yang memakan sesuatu pada hari itu (1 Sam. 14). Akhirnya kesombongan dan ketidak-sabarannya meledak waktu ia memberontak terhadap perintah Tuhan dan tidak melakukannya (1Sam. 15). Sebagai akibatnya, Saul kehilangan berkat dan ditolak oleh Tuhan sebagai raja. Bukannya penuh roh Allah, Saul malah diganggu oleh roh jahat (1 Sam. 16:14).
Hal itu mengajarkan pada kita betapa pentingnya dalam melayani Tuhan bahwa kita tetap sabar dan selalu rendah hati dengan menghormati dan mentaati FirmanNya.

Pergumulan antara Saul dan Daud: Pasal 16-20.
Samuel disuruh Tuhan untuk pergi ke Betlehem dan mengurapi raja baru bagi Israel dari antara anak-anak Isai. Yang ditentukan menjadi raja adalah Daud, anak yang paling muda yang bertugas menggembalakan domba. Daud kemudian turun ke medan perang dan mengalahkan Goliat. Ia pun kemudian menikah dengan anak Saul dan menjadi sahabat anak Saul, Yonatan. Namun Saul menjadi iri hati dan berusaha membunuh Daud. Daud mendengar informasi dari Yonatan bahwa memang itulah niat Saul untuk membunuh Daud. Karena itu, Daud terpaksa lari.

Daud mengungsi melarikan diri dari Saul di Yudea: Pasal 21-26.
Awalnya, Daud mencari perlindungan dari imam Ahimelekh yang menolong dia. Namun Daud kemudian menjadi takut dan justru mencari perlindungan dari Akhish, raja kaum Gat, dan selanjutnya Daud menjadi takut lagi sehingga berpura-pura gila sampai diusir dari istananya. Dari situ, ia lari ke gua Adulam dan berhimpunlah kepadanya orang-orang yang sedang dalam kesukaran, yang dikejar-kejar tukang piutang, yang sakit hati, dan ia menjadi pemimpin mereka sebanyak kira-kira empat ratus orang. Sesudah itu Daud terus dikejar dan terpaksa terus berpindah-pindah dari gua ke padang gurun ke bukit, demi menghindari Saul.
Dua kali Daud mendapatkan kesempatan untuk membunuh lawannya, Saul, tetapi ia tidak melakukannya karena memegang prinsip untuk tidak akan menjamah orang yang diurapi Tuhan (1 Sam. 24, 26).

Daud mengungsi ke tanah Filistia: Pasal 27-31.
Selama ia dapat melakukannya, Daud tinggal di tanah Yudea, tetapi saatnya tiba ketika ia terpaksa mengungsi ke tanah Filistia. Pada waktu itu ia mengambil kesempatan untuk membunuh musuh dari bangsa-bangsa di sekitarnya. Namun orang Filistin menjadi makin marah hingga mereka mau menyerang Israel lagi. Saul kali ini ketakutan dan pergi mencari arwah Saul, sesuatu yang dilarang keras oleh Tuhan. Saul mencari seorang petenung untuk mendapat jawaban dan solusi. Roh Samuel pun bangkit untuk memberi nubuatan bahwa Saul akan mati dalam peperangan pada besok hari. Terjadilah seperti itu. Saul dan tiga anaknya tewas, dimana Saul akhirnya tewas oleh tangannya sendiri.

Kitab 1 Samuel menegaskan integritas Daud, seorang yang diurapi tetapi selalu menghormati pemimpinnya dan sabar menunggu pembelaan Tuhan tanpa berusaha mengambil posisi yang dijanjikan Tuhan. Daud selalu hidup dengan iman. Kepercayaannya adalah di dalam Tuhan. Daud mengalami proses panjang selama 13 tahun sebagai persiapan menjadi raja. Karena itu Tuhan juga memberi perjanjianNya yang kekal kepada Daud, bahwa ia selalu akan memiliki keturunan yang akan duduk atas tahta. Ada banyak pelajaran dalam kehidupan Daud sebagai hamba Tuhan yang mengalami aniaya dan pergumulan.

Di edisi selanjutnya, dalam kitab II Samuel kita akan membaca tentang kehidupan Daud sebagai seorang raja.

INTISARI KITAB RUT

Kitab Rut adalah cerita kasih dan persahabatan. Nama “Rut” berarti “persahabatan”. Rut, walaupun seorang perempuan dari Moab, bangsa kafir, seorang asing, menikah dengan seorang pria Yahudi. Sesudah suaminya meninggal, Rut memilih mengikut ibu menantunya, Naomi, yang kembali ke Betlehem di Yehuda. Di situlah ia setia sebagai sahabat dan menolong Naomi dengan bekerja di ladang. Akhirnya ia bertemu dengan Boas dan menjadi isteri Boas. Ini menjadikan Rut termasuk umat Tuhan dan menjadi nenek moyang Raja Daud dan Yesus Kristus.

Mengapa kitab Rut ditulis?
Ada banyak hal dalam kitab ini yang menjadi bayangan dan pengajaran bagi kita. Mungkin yang terpenting adalah penerimaan seorang kafir sebagai anggota Bangsa Israel. Tujuh kali Rut disebut sebagai “perempuan Moab” (Rut 1:4; 1:22; 2:2; 2:6; 2:21; 4:5; 4:10).
Namun walaupun ia seorang kafir, ia dimasukkan ke dalam keluarga Israel, umat pilihan Allah. Hal itu menggambarkan belas kasihan Tuhan terhadap segala bangsa dan menjadi nubuatan tentang keselamatan dan penebusan orang kafir yang akan terhitung di antara umat Tuhan. Rut menjadi nenek moyang Daud. Terlebih dari itu ia juga menjadi nenek moyang Yesus dan termasuk dalam silsilahNya (Mat 1:5-6).

Rut menjadi pahlawan iman dalam sejarah Israel sebagai umat Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Perjanjian Allah dan Injil keselamatan dimaksudkan untuk semua manusia, yaitu untuk segala kaum, bangsa, suku dan bahasa, yang mau menerimanya.

Menurut tradisi Talmud (sejarah Yahudi), Samuel adalah penulis kitab Rut. Ia menulis tentang peristiwa yang terjadi kira-kira pada tahun 1160 dan 1100 SM, pada zaman hakim-hakim, yaitu pada masa siklus kejatuhan dalam dosa, pertobatan, seruan kepada Tuhan, kelepasan dan kemenangan yang dipimpin oleh hakim-hakim. Di tengah masa yang penuh dengan kekerasan, kegelapan, pemberontakan terhadap Tuhan dan kekacauan di antara masyarakat itu, ada cerita indah yang penuh kasih, sukacita dan pengharapan.
Kitab Rut merupakan kitab yang menjembatani setelah Kitab Hakim-hakim dan pendahuluan sebelum Kitab Samuel yang pertama.
Mari kita pelajari isinya bersama-sama.

Pasal 1: Kesetiaan, Pilihan dan Komitmen Rut di Moab.
Naomi dan suaminya Elimelek serta kedua puteranya Mahlon dan Kilyon mengungsi ke Moab karena ada kelaparan di negeri mereka sendiri. Bagi Naomi, inilah masa paceklik dan pengungsian. Ia meninggalkan Betlehem-Yehuda (dalam bahasa Ibrani berarti “rumah roti” dan “pujian”); lalu pergi ke Moab, bangsa yang dikutuk, suatu bangsa yang tidak boleh masuk jemaat Tuhan sampai generasi yang kesepuluh (Ul. 23:3-6).
Namun ternyata, di sana tragedi terjadi. Suaminya meninggal. Naomi menjadi janda. Lalu dua anak laki-lakinya juga meninggal. Naomi menjadi seperti Ayub yang kehilangan segala sesuatu. Kemudian karena mendengar ada makanan lagi di Israel, Naomi mengambil keputusan untuk pulang dari pengungsian. Pada mulanya dua anak menantunya, Rut dan Orpa, ikut Naomi. Tetapi akhirnya Orpa berpisah dengan Naomi dan Rut. Memang dalam Firman Allah ada prinsip pemisahan. Abraham harus berpisah dengan Lot. Ishak harus dipisahkan dari Ishmael. Yakub harus berpisah dengan Esau.

Naomi sebagai anggota umat dan keluarga Tuhan tidak boleh hidup terus dalam persekutuan dengan orang kafir. Yang rohani tidak boleh hidup bersekutuan dengan yang duniawi. Harus terjadi pemisahan.

Bagaimana dengan Rut sendiri?
Rut mengambil keputusan. Perkataan Rut yangmenunjukkan komitmen yang teguh itu menjadi inspirasi bagi banyak orang di sepanjang zaman: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" (Rut 1:16-17).
Walaupun disuruh pulang, walaupun menghadapi masa yang susah, walaupun akan pergi ke suatu tempat yang belum dikenal, namun Rut tetap bertekad untuk mengikut Naomi. Tekad itulah yang menjadi teladan sepanjang masa bagi orang yang sungguh-sungguh mau mengikut Tuhan. Penyerahan diri Rut kepada Naomi merupakan suatu penyerahan yang total dan tanpa syarat. Ingatlah perkataan Elisa yang serupa kepada Elia. Walaupun tiga kali Elisa disuruh pulang, ia tetap berkata, “Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” (2 Raj. 2:2, 4, 6).
Demikianlah seharusnya langkah kita dalam mengikut Tuhan, dengan komitmen, keputusan yang tegas dan kerinduan yang sangat dalam seperti itu!

Akhirnya Naomi tiba bersama Ruth di Betlehem. Semua orang kaget. Sepuluh tahun sudah lewat dan Naomi sudah tua, dan keadaannya tidak tampak lebih baik daripada sebelum ia merantau ke negeri asing itu. Bahkan, Naomi sendiri pun mengaku: “Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. ...dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. ... TUHAN telah naik saksi menentang aku .... Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.”
Naomi mau mengganti namanya dari “Naomi” yang berarti “manis” menjadi “Mara” yang berarti “pahit”. Memang seringkali dalam Firman Tuhan ada orang yang namanya diubah/diganti. Namun perhatikan, nama Naomi tetap tidak diubah oleh Tuhan. Dia tetap disebut “manis”. Mengapa? Karena namanya memang sudah tepat. Tuhan sudah menyediakan baginya pengalaman yang manis, seperti rancangan yang Tuhan sediakan bagi semua anakNya. Ingatlah Yusuf yang tidak mengeluh di tengah jalan tetapi pada akhirnya mengatakan, “Kamu telah mereka-rekakannya yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” (Kej. 50:20).
Naomi belum tiba pada kesudahan perjalanannya. Memang Tuhan mengerjakan segala sesuatu bagi kebaikan bagi orang yang dipanggilNya (Rm. 8:28).

Pasal 2: Kasih Rut dan Pelayanannya di Ladang di Betlehem.
Rut dan Naomi tiba kembali di Betlehem pada masa penuaian. Rut minta, “Biarkanlah aku pergi ke ladang.” Ia mau bekerja. Rut pergi ke ladang Boas untuk memungut bulir-bulir jelai. Hal itu sesuai dengan undang-undang Tuhan di mana seorang miskin boleh masuk ladang orang lain untuk mencari nafkah (Im, 19:9-10; Ul. 15:11).
Boas adalah seorang kerabat dari keluarga suami Naomi yang kaya raya. Sewaktu Boas mendengar cerita Rut, ia kagum pada pengorbanannya dan keinginannya untuk datang berlindung di bawah sayap Tuhan. Rut memungut jelai di ladang sampai petang. Lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan dibawanya kepada mertuanya.
Naomi berkata, “Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita.” Menurut adat di Israel, kamu kerabat boleh dicari untuk menebus atau membeli kembali tanah warisan yang sudah dijual oleh seorang yang sudah meninggal tanpa anak. Penebus itu wajib menikah dengan jandanya. Penebus itu harus ada hubungan darah, harus rela untuk membayar harga, harus membeli kembali tanah milik saudaranya dan harus rela menikah dengan mantan isterinya untuk mendapat keturunan bagi saudaranya yang sudah meninggal itu. Dalam Bahasa Ibrani, penebus itu disebut dengan “goel” (Imamat 25:25, Ulangan 25:5-10).
Ini adalah gambaran tentang Yesus sebagai Penebus yang mengembalikan warisan keselamatan dan hidup kekal bagi manusia.

Selama musim penuaian jelai dan gandum, Rut tetap bekerja di ladang Boas dan tetap tinggal bersama Naomi.

Pasal 3: Ketaatan Rut dan Penyerahan Dirinya di Tempat Pengirikan.
Naomi ingin mencari tempat perlindungan atau tempat perhentian bagi Rut. Ia memberi nasehat kepada Rut dan Rut taat kepada nasihat ibu mertuanya. Gereja juga perlu taat kepada pimpinan dan perintah Roh Kudus. Sebagaimana Ruth mempersiapkan dirinya, demikian pula Gereja harus mengadakan persiapan bagi pertemuan dengan Penebus dan Sang Mempelai Pria, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Rut perlu persiapan untuk bertemu dengan Boas. Seperti yang diinstruksikan oleh Naomi, Rut mandi, berurap dan mengenakan pakaian yang terbaik. Sesudah itu pergilah Rut ke tempat pengirikan, tepat seperti yang diperintahkan mertuanya. Tempat pengirikan mempunyai makna yang khusus dalam Firman Tuhan. Itulah tempat di mana terjadi pemisahan antara gandum dan sekam. Itulah tempat penyiksaan dan penderitaan di mana gandum yang murni dipisahkan dari sekam. Untuk menjadi mempelai wanita Kristus, kita juga harus mengalami proses pemurnian dan penyucian.
Apakah kita juga bersedia melakukan apa saja yang diperintahkan Roh Kudus? Bersediakah kita pergi ke manapun kita diutus? Bersediakah kita mengatakan apapun yang diperintahkanNya? Bersediakah kita melakukan apapun yang diinstruksikanNya? Kita perlu memiliki hati dan pengakuan kepada Tuhan, seperti Rut kepada Naomi, “Segala yang Engkau katakan, akan kulakukan!”
Rut sungguh berani. Ia memberanikan dirinya dengan diam-diam untuk menghampiri tempat Boas. Demikian pula, kita juga memerlukan keberanian untuk masuk tempat maha kudus dan menghampiri Tuhan kita. Jangan kita takut atau ragu-ragu. Sudah waktunya bagi kita menghampiri Tuhan mencari tempat perhentian dan istirahat dikaki Yesus untuk melihat segala perjanjian digenapi dalam kehidupan kita.
Rut bertemu Boas pada waktu tengah malam. Tengah malam adalah gambaran akhir zaman, yaitu saat-saat terakhir yang mendahului kedatangan Yesus pada kedua kalinya. Rut berbaring di sebelah kaki Boas, sebagai gambaran dari gereja yang rela merendahkan diri dan begitu menginginkan hadirat TuhanNya sampai seakan-akan berbaring di sebelah kaki-Nya. Kita perlu menjadi seperti Rut di dalam ketaatan dan di dalam kerinduan sampai rela mengorbankan perasaan malu, perasaan yang egois, keinginan melindungi diri, sampai kita memberikan diri kepada Tuhan secara seluruhnya.
Di kaki Boas, Rut mencari perlindungan. Kita juga rindu untuk mengalami perlindungan di bawah sayap Tuhan. Boas menyambut Rut. Ia memberkati Rut dan mengakui kasihnya yang ditunjukkan kepada ibu mertuanya. Kalau kita mendekati Tuhan, Ia akan mendekati dan menyambut kita. Hubungan antara Kristus dan Gereja adalah suatu rahasia yang besar: “Rahasia ini besar, yaitu hubungan Kristus dan jemaat.” (Ef. 5:32).
Kemudian Rut diberi enam takar jelai. Itulah hadiah baginya, sesuatu yang benar-benar ia butuhkan bagi dirinya sendiri sekaligus bagi Naomi. Tuhan juga mau memberikan kepada kita segala sesuatu yang kita butuhkan, sekaligus memampukan kita untuk melayani dan menjadi berkat bagi orang lain. Sebagaimana Rut menerima supaya ia dapat memberi makan Naomi, kita pun diberikan karunia supaya kita dapat melayani orang lain. Ada masa di mana kita harus menantikan Tuhan seperti Rut menantikan Boas. Jangan kita tergopoh-gopoh. Jangan kita menjadi kurang sabar. Biarlah kita menunggu untuk Tuhan menggenapi rencanaNya. Tuhan sudah memberi janji penebusan yang penuh tetapi kita harus menunggu dengan sabarnya bagi penggenapan janji itu (Rm. 8:23; Ef. 1:14; 4:30).

Pasal 4: Perkawinan Rut dan Penebusannya di Pintu Gerbang.
Ada pertemuan yang terjadi di pintu gerbang kota. Pintu gerbang adalah tempat di mana diadakan keputusan dan hukuman oleh tua-tua kota. Boas rela menjadi penebus tetapi ada kerabat yang lebih dekat yang berhak membeli tanah dan menikah dengan Rut. Ternyata kerabat itu mau membeli tanah warisan Elimelekh tetapi orang itu tidak rela menikah dengan Rut. Karena itu Boas membeli tanah, segala milik Elimelekh dan segala milik Kilyon dan Mahlon, dan mengambil Rut, menjadi isterinya. Semua tua-tua dan semua orang yang ada di pintu menjadi saksi. Mereka memberikan kepada Boas berkat Rahel dan Leah, dan berkat Perez anak Yehuda.
Dengan tindakan ini kita melihat Rut diberkati menurut Perjanjian Abraham. Rut mendapat perlindungan di bawah sayap Tuhan. Ia menjadi anggota umat Tuhan dan menerima segala janji-janji yang diberikan kepada Abraham, yaitu tanah, keturunan dan berkat. Semuanya itu adalah gambaran bagaimana orang yang bukan Yahudi boleh juga mengambil bagian dalam Perjanjian Abraham.
Rut menikah dengan Boas. Rut mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Obed. Anak itu adalah karunia Tuhan. Obed menjadi berkat bukan hanya bagi kedua orang tuanya tetapi khususnya bagi neneknya, Naomi. Dari Obed muncullah keturunan Daud dan seribu tahun kemudian, lahirlah Yesus.

Luar biasa kisah cinta yang indah ini! Di dalamnya kita melihat betapa besarnya kasih Allah: kasih Allah kepada Naomi anggota umat Tuhan yang menderitakan kehilangan segala sesuatu, kasih Allah kepada Rut seorang kafir yang mencari perlindungan di bawah sayapnya Tuhan, dan kasih Allah yang dinyatakan oleh tindakan Boas, sang Penebus.

INTISARI KITAB YOSUA

Kelima kitab Taurat yang ditulis oleh Musa dan menjadi dasar dari Perjanjian Lama sudah kita pelajari. Sekarang kita sampai kepada kitab yang keenam. Inilah kitab yang mencatat penggenapan perjanjian Allah kepada Bangsa Israel, kitab yang menceritakan bagaimana Bangsa Israel masuk, merebut, menduduki dan memiliki tanah perjanjian di bawah pimpinan Yosua.
Menurut tradisi Yahudi, kitab ini ditulis oleh Yosua, dan ayat-ayat terakhirnya mungkin ditambahkan oleh Pinehas, anak Eleasar imam besar.
Nama “Yosua”, ( “Yehoshua”) dalam Bahasa Ibrani hampir sama dengan nama “Yesus” (“Yeshua”). Maknanya adalah “Yahweh menyelamatkan”.
Dalam Perjanjian Baru, isi kitab ini beberapa kali diteguhkan. Yosua sebagai pemimpin Israel disebut dalam Kisah Para Rasul 7:45. Usaha Bangsa Israel masuk tanah perjanjian menjadi dasar pengajaran bagi kita dalam Ibrani 4:1-11. Keruntuhan Yerikho dan keselamatan Rahab dicatat dalam Ibrani 11:30-31. Perjanjian yang diberikan Tuhan kepada Yosua dikutip dan diaplikasikan untuk setiap orang percaya dalam Ibrani 13:5. Yakobus juga bicara tentang kebenaran Rahab dalam Yakobus 2:25.

Kitab ini mengisahkan sejarah Israel sejak kematian Musa sampai kematian Yosua. Di dalamnya diceritakan tentang perebutan tanah Kanaan (Yos. 1-12), pembagian tanah Kanaan (Yos. 13-22) dan nasehat terakhir dari Yosua serta kematiannya (Yos. 23- 24).
Mari kita lihat satu per satu bagian kisah sejarah yang penting ini.

1. Israel Masuk dan Merebut Kanaan (Yos. 1-12).
Misi Bangsa Israel adalah mengalahkan semua penduduknya dan menduduki tanah Kanaan sebagai negeri Tuhan, negeri yang dijanjikan oleh Tuhan sendiri kepada nenek moyang mereka, Abraham, Ishak dan Yakub. Misi itu ternyata adalah perjuangan iman yang begitu berat bagi Bangsa Israel, karena harus dijalankan bukan dengan kekuatan sendiri tetapi atas dasar Firman Tuhan, pimpinanNya dan pertolonganNya sebagai Panglima Perang.

"Penugasan Yosua"
Yosua memimpin Bangsa Israel memasuki tanah perjanjian atas dasar Firman Tuhan. Tuhan memerintahkan supaya Yosua jangan takut, kecut dan tawar hati melainkan menguatkan dan meneguhkan hatinya, bertindak hati-hati sesuai dengan Taurat Musa dengan tidak menyimpang kekanan atau ke kiri, melainkan memperkatakan dan merenungkan itu siang dan malam. Dengan perintah itu, Tuhan juga berjanji akan menyertai Yosua, ke manapun ia pergi. Karena itulah Yosua berani memimpin Israel.
Bagaimana dengan kita? Beranikah kita melakukan misi iman kita? Ada banyak pelajaran di sini mengenai perjalanan dan peperangan, mengenai keberanian, ketabahan dan iman (Yos. 1).

"Pengintai dan Rahab"
Pertama-tama, Yosua mengutus dua orang pengintai untuk menyelidiki kota Yerikho. Di kota itu, mereka berdua disembunyikan dan diselamatkan oleh Rahab, seorang pelacur. Mereka pun berjanji bahwa Rahab akan selamat beserta seisi rumahnya asalkan menaruh benang merah di rumahnya saat kota diserbu. Cerita itu menjelaskan inti Injil, di mana ada berkat dan keselamatan bagi siapapun yang percaya kepada Allah Israel. Rahab pun menjadi nenek moyang Yesus yang tercatat dalam silsilahNya, sesuatu yang melambangkan anugerah penerimaan orang kafir dan orang berdosa ke dalam umat Tuhan (Mat. 1:5).
Rahab juga disebut dalam daftar pahlawan iman dalam Ibrani 11:31 (Yos. 2).

"Penyeberangan Sungai Yordan"
Hal berikutnya yang Bangsa Israel harus lakukan adalah menyeberangi Sungai Yordan. Dalam penyeberangan ini, tabut perjanjian harus diusung oleh imam-imam mendahului Bangsa Israel sejauh 2000 hasta. Ini adalah gambaran Yesus yang mendahului umatNya masuk ke dalam kesempurnaan, 2000 tahun sebelum umatNya. Penyeberangan ini adalah mujizat, perbuatan Tuhan. Imam harus bertindak dengan iman, mengangkat tabut dan berdiri dalam air.
Apa mujizat yang Tuhan lakukan? Sungai itu berhenti mengalir, menjadi kering dan seluruh Bangsa Israel dapat menyeberang (Yos. 3).
Sebagai peringatan, dua tugu didirikan, satu di dasar sungai dan satu di tepi barat di Gilgal (Yos. 4).
Selanjutnya, berhubung satu generasi yang lahir di padang pasir itu belum disunat, semuanya harus mengalami sunat sebelum maju berperang. Apa makna sunat? Sunat adalah tanda perjanjian yang diberikan Allah kepada Abraham (Kej. 17). Kewajiban sunat bagi Bangsa Israel berarti mereka harus menerima tanda perjanjian Allah itu sebelum menerima penggenapannya (Yos.5).
Dalam kelanjutan misi itu, Yosua kemudian bertemu dengan Panglima bala tentara Tuhan yang datang dengan pedang terhunus. Yosua diperintahkan untuk melepaskan kasutnya karena tempat itu kudus. Apa maksudnya? Maksudnya adalah semua peperangan harus di bawah pimpinan dan kuasa Panglima sorgawi dan atas dasar kekudusan. Hanya setelah perjumpaan Yosua dengan Panglima itulah kampanye boleh dimulai untuk mengalahkan musuh dan menduduki tanah Kanaan. Yosua di sini menggambarkan Yesus sebagai Panglima kita. Ini sesuai dengan kata yang dipakai dalam berbagai bahasa. Dalam Bahasa Yunani, Yesus disebut sebagai “archegos tes soterias”, yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris sebagai “Captain of our salvation” atau dalam Bahasa Indonesia, “Panglima Keselamatan” (Yos. 5:13-15).

"Yerikho diruntuhkan"
Inilah cara yang luar biasa untuk mengalahkan sebuah kota! Selama enam hari, Bangsa Israel mengelilingi Yerikho dan pada hari ketujuh mengitarinya tujuh kali. Pada putaran terakhir, pengitaran ini disertai dengan teriakan dan bunyi sangkakala, lalu tembok kota Yerikho runtuh dan semua penghuni selain Rahab dan keluarganya dibantai. Kita dapat melihat bahwa Bangsa Israel menang karena mereka mendengar, percaya dan mentaati Firman Tuhan walaupun seakan-akan tidak masuk akal (Yos. 6).

"Kalah di Ai"
Kota berikutnya yang perlu ditaklukkan adalah kota Ai. Karena Ai dianggap sebagai kota yang kecil dan lemah, Israel bersandar kepada kekuatan sendiri dan tidak bertanya kepada Tuhan tetapi langsung menyerangnya. Betapa kaget mereka waktu mengalami kekalahan! Hampir saja mereka putus asa! Mereka pun kemudian mencari sebabnya dan menemukan bahwa ternyata ada dosa di tengah-tengah mereka sendiri. Akhan mencuri. Dia ditangkap dan dirajam dengan batu sampai mati. Ternyata Israel kalah jika tidak bertindak berdasarkan kebenaran. Mereka kalah oleh dosa cinta akan uang dan harta di antara mereka. Setelah bertobat, Bangsa Israel menyerang kota Ai lagi. Mereka mengepungnya dengan dipimpin oleh Tuhan dan kota itu berhasil dimusnahkan. Perhatikan, jika umat Tuhan tidak bertindak berdasarkan kebenaran dan kekudusan, mereka akan kalah (Yos. 7-8)!

"Perjanjian diteguhkan"
Selanjutnya, di Gunung Ebal, Yosua mendirikan mezbah, mempersembahkan korban dan menulis di dua batu hukum Taurat Musa. Seluruh Israel menghadap ke Gunung Gerizim dan setengahnya lagi menghadap ke Gunung Ebal, lalu dibacakannyalah segala perkataan hukum Taurat beserta dengan berkatnya dan kutuknya. Seluruh Bangsa Israel pun mengikatkan diri kepada hukum Taurat itu (Yos. 8:30-35).
Inilah komitmen umat Allah terhadap kebenaranNya.

"Ditipu Gibeon"
Mendengar tentang kemenangan Israel, penduduk negeri Gibeon sangat ketakutan dan bersepakat menipu Israel dan membuat perjanjian damai. Mereka berpura-pura datang dari jauh, dengan karung, kirbat anggur, kasut, pakaian yang buruk-buruk dan roti bekal kering. Mereka mengaku dirinya dari negeri jauh dan mau mendapatkan perjanjian supaya tidak akan diserang oleh Israel. Sebenarnya mereka dilarang membuat perjanjian dengan suku-suku di negeri itu tetapi lagi-lagi Israel tidak bertanya kepada Tuhan dan akhirnya tertipu. Akhirnya perjanjian itu memang batal, tetapi suku itu menjadi “pembelah kayu dan air untuk mezbah YHWH”.
Ingat, umat Tuhan perlu mendengar dan mempercayai perkataan firman Tuhan. Tanpa perkataan Tuhan, umat Tuhan akan tertipu (Yos. 9)!

"Matahari berhenti beredar"
Kisah selanjutnya mencatat bahwa ada lima raja orang Amori di bawah kepemimpinan Adoni-Zedek yang mengadakan persekutuan untuk menyerang Gibeon. Gibeon minta pertolongan Yosua, yang kemudian menyerang mereka pada malam hari. Di sini Tuhan berintervensi dan menolong dengan mujizat yang luar biasa. Yosua memerintahkan matahari dan bulan berhenti beredar sampai musuh kalah. Tanda mujizat itu menjadi peringatan kepada Bangsa Israel bahwa Tuhan menyertai mereka. Kemudian, satu demi satu, kota-kota diserang dan dikalahkan.
Apa pelajaran penting di sini? Jikalau umat Tuhan percaya dan taat kepada Tuhan, mujizat akan terjadi (Yos. 10)!

"Raja-raja dikalahkan"
Kemudian raja-raja lain, di bawah Raja Yabin, berkumpul untuk menyerang Israel. Mereka dikatakan “seperti pasir di tepi laut banyaknya”, tetapi Yosua mengalahkan mereka sampai tidak ada seorang pun dari mereka yang dibiarkan lolos. Dengan cara itu Yosua merebut seluruh negeri di tanah Kanaan. Tercatat 31 raja, nama demi nama, dikalahkan oleh Yosua dan Bangsa Israel. Ini adalah gambaran perlawanan dan kemenangan kita atas penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, dan roh-roh jahat di udara (Yos. 11-12).

2. Pembagian Tanah (Yos. 13-22).
Dalam pasal-pasal berikutnya, didaftarkan tanah milik pusaka Israel. Tuhan berbicara kepada Yosua. Masih ada tanah yang belum diduduki. Itulah “segenap wilayah orang Filistin dan seluruh negeri orang Gesur”. Tanah itu sebenarnya telah ditentukan sebagai warisan atau milik pusaka yang diberikan kepada Bangsa Israel dan masih perlu direbut.
Dalam kitab Yosua, kata “milik pusaka” disebut dalam 40 ayat. Betapa pentingnya bahwa Israel berjuang untuk memiliki milik pusaka itu! Semua suku mendapat bagian. Hanya suku Lewi yang tidak dapat milik pusaka. Mereka mendapatkan tempat untuk didiami namun bukan sebagai milik pusaka, karena milik pusaka mereka adalah Tuhan sendiri (Yos. 13:14, 33).

Yosua bersama Imam Eleazar dan para kepala kaum keluarga dari suku-suku Israel ditugaskan untuk membagi-bagi tanah itu dengan mengundi. Bagian negeri sampai dengan sisi timur Sungai Yordan dibagikan kepada kepada Suku Ruben, Gad, dan Makhir (setengah dari Suku Manasye). Kemudian selain daripada pembagian kepada suku-suku, ada milik pusaka khusus yang diberikan kepada Kaleb di Hebron (Yos. 13-14). Selanjutnya, tanah di sebelah timur Sungai Yordan dibagikan kepada suku demi suku, mulai dengan Suku Yehuda (Yos. 15). Sesudah itu tanah dibagikan kepada suku keturunan Yusuf, yaitu Efraim dan separuh Manasye (Yos. 16:1-10 and 17).

Setelah itu, Bangsa Israel berkumpul di Silo, di mana kemah Musa didirikan (Yos. 18:1-10), dan suku-suku Benyamin menerima warisannya (Yos. 18:11-28).
Simeon, Zebulon, Isakhar, Asyer, Naftali, dan Dan juga diberikan wilayahnya masing-masing sebagai milik pusaka. Yosua, seperti Kaleb, mendapat bagian khusus sebagai milik pusaka, yaitu Timnah-serah di wilayah suku Efraim (Yos.19).
Selain itu juga ada kota-kota perlindungan, kota suaka yang ditetapkan sebagai tempat perlindungan bagi orang yang membunuh seseorang dengan tidak sengaja (Yos. 20). Kemudian, ada 48 kota yang diberikan secara khusus untuk orang Lewi sebagai tempat untuk mereka tinggal. Kota itu disebarkan di antara kedua belas suku.
Apa artinya semua ini? Tuhan punya rencana dan tempat yang khusus bagi setiap individu, keluarga, suku dan bangsa. Tuhan menyediakan warisan untuk kita semua. Ia memilih bagi kita tanah pusaka kita (Maz. 47:5). Marilah kita miliki warisan kita (Yos. 21).

Sesudah seluruh negeri itu dikuasai dan dibagi-bagi, semua prajurit dari dua setengah suku di sebelah timur Sungai Yordan kembali kepada milik pusaka mereka. Mereka membangun bangunan tiruan mezbah Tuhan bukan untuk korban bakaran tetapi sebagai saksi bahwa mereka menyembah Tuhan Allah dan bahwa mereka bersatu dengan suku-suku di seberang Sungai Yordan. Mereka menyebut nama mezbah itu dengan nama “Saksi” (Yos. 22).

3. Pesan terakhir Yosua (Yosua 23-24).
Sesudah negeri Perjanjian dibagi-bagikan kepada suku-suku Israel, Yosua memberikan pesan terakhir kepada Bangsa Israel.
Pesan perpisahan pertama diberikan kepada pemimpin-pemimpin untuk membangunkan iman mereka dengan mengingatkan mereka supaya tetap setia kepada Taurat Tuhan yang diberikan kepada Musa (Yos. 23).
Kemudian ia mengumpulkan semua suku di Sikhem, memberi pesan dan tantangan lagi dengan mengingatkan mereka tentang sejarahnya. Yosua menantang seluruh bangsa ini untuk memilih, dengan menyebutkan segala konsekuensi dari masing-masing pilihan. Bangsa Israel memilih untuk taat kepada Tuhan dan beribadah kepadaNya, maka Yosua pun mendirikan batu sebagai saksi tentang perjanjian mereka. Akhirnya setelah memberikan pesan terakhirnya ini, Yosua meninggal dunia dan dikuburkan (Yos. 24).

Di seluruh kitab Yosua, kita membaca tentang penggenapan nubuat dan perjanjian Allah. Kita melihat bahwa Tuhan setia kepada janjiNya, bahwa Ia menghukum semua yang berbuat jahat dan Ia memberkati semua yang taat kepada FirmanNya dengan memelihara, memimpin dan membawa mereka masuk ke dalam negeri yang dijanjikan.

Apa kesimpulannya? Allah memberi janji, namun kitalah yang bertanggung jawab untuk meraih dan memiliki janji-janji itu dengan perjuangan iman berdasarkan FirmanNya.

INTISARI KITAB HAKIM-HAKIM

Setelah kematian Yosua, Bangsa Israel memasuki era yang baru. Satu masalah yang dihadapi bangsa ini adalah bahwa semua musuhnya tidak dikalahkan sebagaimana diperintahkan Tuhan melalui Musa.
Ada orang Filistin yang masih tetap tinggal di negeri perjanjian. Di dalam kitab Hakim-hakim, kita baca juga bahwa mereka diizinkan oleh Tuhan tinggal di negeri itu sebagai ujian bagi umatNya. Dalam era yang baru itu, Israel dipimpin oleh hakim-hakim yang bertanggung jawab untuk memimpin Israel dan berperang dengan musuh-musuhnya, baik yang ditinggalkan di dalam negeri mau pun yang hidup di sekelilingnya. Ini disebabkan karena bangsa Israel tidak bersatu dan tidak memusnahkan semua musuhnya.

Penulis Kitab Hakim-hakim adalah Samuel, seorang nabi dan juga seorang hakim. Samuel merupakan hakim yang terakhir.
Kitab Hakim-hakim ditulis sekitar tahun 1000 SM. Judul kitab ini dalam Bahasa Ibrani adalah "Sepher Shophetim" yaitu Kitab Hakim-hakim.

Hakim-hakim menceritakan sejarah Israel selama kira-kira 400 tahun dari tahun 1450 SM sampai tahun 1050 SM, yaitu dari kematian Yosua sampai kepada kematian Simson.

"Siklus Sejarah dalam Kitab Hakim-hakim"

Masa yang dikisahkan dalam Kitab Hakim-hakim ditandai oleh semacam siklus:
* Israel jatuh dalam dosa.
* Ditangkap dan diperbudak oleh musuhnya.
* Berseru kepada Tuhan.
* Tuhan mengangkat seorang hakim.
* Israel dibebaskan dan mengalahkan musuhnya.
* Mereka kembali beribadah kepada Tuhan.
* Akhirnya mereka sekali lagi lupa Tuhan, jatuh dalam dosa, meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala.

Walaupun generasi Yosua setia kepada Tuhan (Yos. 24:31), generasi berikutnya meninggalkan Tuhan. Mungkin ini adalah gambaran ciri khas Bangsa Israel, bahkan semua umat Tuhan sampai masa sekarang.

“Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukanNya bagi orang Israel. Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal. Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN.” (Hak. 2:10, 12).

Mengapa hal itu terjadi? Karena semua orang hanya mengikuti kemauannya sendiri.

“Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hak. 17:6).

Dalam Kitab Hakim-hakim, kita menyaksikan kegagalan Israel yang terus-menerus dan kasih karunia Allah yang tidak habis-habisnya. Ini menggambarkan keadaan Gereja yang berulang kali jatuh dan hanya bangun dan jalan terus karena kemurahan Allah yang kekal.

Di dalam seluruh siklus kehidupan Bangsa Israel di Tanah Perjanjian ini, kita akan melihat masing-masing bagiannya.

Pendahuluan (Hak. 1-2).

Siklus Bangsa Israel menunjukkan ujian dari Tuhan. Orang Kanaan ditinggalkan dalam Negeri Perjanjian untuk menguji Israel. Apakah mereka akan percaya, mentaati Tuhan, takut dan setia atau apakah mereka akan berdosa, memberontak dan kembali kepada penyembahan berhala?
Kalau mereka mengalami hukuman Allah dan bertobat dan berseru kepada Tuhan dengan minta pertolongan, Tuhan mengampuninya dan memberikan kemenangan atas musuh mereka. Tuhan terus menunjukkan kesetiaanNya kepada perjanjianNya (Hak. 1-2).

"Sejarah (Hak. 3-16)"

'OTNIEL'
Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera. Delapan tahun Israel takluk kepada Kusyan-Risyataim, raja Aram-Mesopotamia. Sesudah mereka berseru kepada Tuhan, Ia membangkitkan Otniel untuk menghakimi Israel dan berperang dan mengalahkan raja itu. Sesudah itu, negeri itu aman empat puluh tahun lamanya (Hak. 3:7-11).

'EHUD'
Kemudian Israel dikalahkan dan dijajah oleh Raja Eglon dari Moab selama delapan belas tahun.
Ada cerita menarik bagaimana Ehud menipu Eglon dengan berkata bahwa ia membawa pesan dari Allah, lalu menusuknya di perut sampai ia mati. Sesudah menang atas tentara Moab, Israel mengalami damai selama 80 tahun. Juga dicatat tentang Samgar yang menewaskan enam ratus orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu dan menyelamatkan orang Israel (Hak. 3:15-31).

'DEBORA'
Sesudah Ehud mati, Israel berbuat jahat. Akibatnya mereka diserahkan ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan. Panglima tentaranya ialah Sisera. Cerita itu terdapat dalam Hakim 4, sedangkan sebuah mazmur atau nyanyian tentang peristiwa yang sama dicatat dalam Hakim 5.
Israel berseru kepada Tuhan dan Tuhan memberi pembebasan dan kemenangan lewat Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot. Debora memerintah sebagai hakim atas orang Israel. Bersama Barak pemimpin tentaranya mereka berperang dan menang. Kunci kemenangannya juga ada dalam tangan seorang perempuan lain, namanya Yael, yang membunuh Sisera. Sesudah itu ada empat puluh tahun damai. Cerita ini menarik karena keterlibatan wanita dalam memimpin Israel dan dalam membawa kemenangan (Hak. 4-5).

'GIDEON'
Israel berbuat dosa lagi dan diserahkan ke dalam tangan Midian selama tujuh tahun. Mereka berseru kepada Tuhan. Malaikat datang kepada Gideon yang sedang bersembunyi dan mengagetkannya dengan berkata, “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”
Gideon merasa bahwa dirinya dibuang oleh TUHAN dan diserahkan kepada tangan musuh. Ia berkata bahwa ia berasal dari kaum yang paling kecil dan ia sendiri adalah yang paling muda di antara kaum keluarganya. Namun dengan iman dan ketaatan, kepada Tuhan ia dapat menang atas musuh dengan 300 orang saja. Kemudian ada 40 tahun damai di Israel. Sesudah kematian Gideon, Israel mulai saling melawan di antara bangsanya sendiri dan saling menyerang. Akhirnya mereka jatuh lagi ke dalam tangan musuhnya sampai mereka berseru lagi kepada Tuhan (Hak. 6-10).

'YEFTA'
Waktu Israel diserang Bangsa Amon, mereka panggil sebagai pemimpin Yefta yang adalah anak seorang wanita sundal. Yefta bernazar kepada Tuhan, dan sebagai akibatnya ia mempersembahkan anak perempuannya kepada Tuhan. Ia berhasil menang atas orang Amon tetapi kehilangan anak perempuan itu (Hak. 11-12).

'SIMSON'
Israel berdosa lagi dan diserahkan ke dalam tangan orang Filistin selama 40 tahun. Kemudian malaikat Tuhan menampakkan diri kepada isteri Manaoah, seorang perempuan yang mandul, dan memberitahukannya bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki. Itulah Simson. Dijanjikan bahwa ia akan mulai melepaskan Bangsa Israel dari orang Filistin. Maka sejak lahir, ia diserahkan kepada Tuhan menjadi seorang nazir. Karena itu rambutnya tidak boleh dipotong. Simson memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Namun waktu digoda Delila, ia membuka rahasia kekuatannya, rambutnya dipotong dan Simson kehilangan kuasanya. Tetapi dengan doa terakhir ia minta Tuhan memberi kemenangan atas orang Filistin itu dan dengan kekuatan supranatural ia menghancurkan rumah mereka dan sekaligus membunuh 3.000 orang (Hak. 13-16).

"Keadaan Zaman (Hak. 17-21)"

Ada dua cerita khusus yang merupakan catatan tambahan dalam Kitab Hakim-hakim, yang menggambarkan keadaan Bangsa Israel yang jahat dan jauh dari Tuhan. Dua contoh itu tidak ditulis menurut kronologi tetapi sebenarnya terjadi pada permulaan Kitab Hakim-hakim dan ditambah sebagai pelajaran yang menunjukkan keadaan moral pada zaman itu.
Yang pertama adalah kisah seorang Efraim bernama Mikha, yang mengambil patung pahatan, efod, terafim, patung tuangan dan mengangkat seorang Lewi dari Betlehem-Yehuda sebagai “bapak dan imam” dan dengan itu memulai ibadah penyembahan berhala di rumahnya sendiri. Lima orang dari suku Dan mengunjungi Mikha dan melihatnya kemudian mencuri semuanya. Mereka mulai ibadah yang sama di antara suku Dan. Dengan demikan penyembahan berhala dan ibadah palsu menular di Israel (Hak. 17-18).
Kedua, seorang Lewi mengambil seorang gundik dan membawanya dalam perjalanan. Dalam perjalanan itu, mereka bermalam di Gibea di daerah suku Benyamin dan gundiknya diperkosa sampai mati. Akibatnya ada perang antara Israel dan Benyamin sampai Benyamin kalah dan banyak orang mati. Ada perpecahan dan permusuhan di antara umat Tuhan (Hak. 19-21).

Semuanya itu terjadi karena “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hak. 21:25).

Kitab Hakim-hakim menjadi pelajaran bagi Gereja akhir zaman. Apakah kita akan melihat siklus dosa tetap berlaku berulang-ulang, atau apakah kita akan bangkit sebagai generasi yang kudus, benar, setia, berani dan menjadi pemenang?

INTISARI KITAB ULANGAN

Kitab Ulangan adalah kitab kelima yang ditulis Musa. Judulnya dalam bahasa Ibrani Devarim (“kata-kata”).
Kitab itu mulai dalam bahasa Ibrani Eleh ha-devarim,-"Inilah kata-kata".
Kitab itu mengandung kata-kata Musa yang diperintahkan kepadanya oleh Tuhan untuk disampaikan kepada Bangsa Israel sebelum mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Kitab itu dimulai pada pada tanggal satu, bulan sebelas, tahun keempat puluh dari perjalanan dalam padang gurun (Ul. 1:3).
Tujuh puluh hari kemudian, pada tanggal sepuluh bulan pertama, mereka menyebrang sungai Yordan (Yos. 4:19).
Kitab Ulangan ditulis dalam kurun waktu itu. Memang, tentu ada orang lain setelah Musa yang menuliskan berita kematian Musa dalam kitab ini juga.

Berita utama dalam Kitab Ulangan adalah “Jangan lupa!” (Ul. 4:9). Tuhan sangat tahu bahwa Bangsa Israel perlu diingatkan! Itu sebabnya, Kitab Ulangan adalah kitab peringatan bagi umat Tuhan. Mereka diperingatkan Tuhan untuk ingat perjanjian, perjanjian dengan Abraham, Ishak dan Yakub dan juga perjanjian dengan nenek moyang mereka di bukit Sinai (Ul. 6:17-18).

Kata perjanjian dipakai 27 kali dalam kitab Ulangan. Selain itu, mereka juga diperingatkan tentang sejarah Israel.
Paulus berkata semuanya itu menjadi pelajaran bagi kita (1 Kor. 10:12).
Petrus juga mengingatkan Jemaat seperti Musa mengingatkan Bangsa Israel (2 Ptr. 1:12-13).
Betapa penting sejarah kita pribadi, sejarah jemaat Tuhan Yesus dan sejarah sepanjang Alkitab. Jangan sampai kita melupakannya!
Berita utama itu penting bagi kita karena berkaitan dengan generasi akhir zaman. Sebagai generasi akhir, sebagai umat tebusan, sebagai Israel rohani di atas bumi ini, kita sangat perlu mendengar nasehat yang ditulis dalam Kitab Ulangan. Sebelum detik-detik terakhir zaman ini, kita perlu mengingat kembali segala perintah dan janji Firman Tuhan, serta perjalanan orang kudus yang sudah mendahului kita bersama dengan segala kemenangan dan kegagalan mereka.

Kitab ini juga penting karena Kitab Ulangan dikutip lebih dari 80 kali di dalam Perjanjian Baru. Waktu Yesus dicobai Iblis di padang gurun, Ia sendiri mengutip dari Kitab Ulangan sebanyak tiga kali. Karena itu tidak dapat disangkal bahwa kitab itu tentulah berhubungan dan berurusan dengan semua pengikut Yesus pada zaman ini. Yesus dan murid-muridnya begitu menghargai kitab ini, maka kita juga perlu membacanya, merenungkannya dan melaksanakannya.

Dalam Kitab Ulangan ada tiga khotbah yang disampaikan Musa di daratan Moab sebelum Israel masuk Tanah Perjanjian. Mereka sudah 40 tahun mengembara dalam padang pasir. Lalu menjelang bangsa itu masuk, menduduki dan mewarisi Tanah Perjanjian, ada Firman Allah yang disampaikan kepadanya di tempat perkemahan mereka yang terakhir.

Khotbah pertama: Sejarah (“Ingatlah masa lalu!”) – Ul. 1-4.
Di sini Tuhan mengingatkan Israel bahwa Tanah Perjanjian adalah tujuan, gol mereka. Tuhan sudah menyediakan tanah itu bagi mereka dan Ia yang suruh mereka masuk dan mendudukinya. Sebenarnya perjalanan itu dapat ditempuh dalam waktu sebelas hari (Ul. 1:2), namun yang akhirnya dibutuhkan adalah 40 tahun karena pemberontakan dan kekurangan iman mereka.
Musa mengingatkan bangsa itu bagaimana ia sendiri tidak sanggup memikul tanggung jawab atas mereka, menanggung kesusahan dan beban dan perkaranya.
Ia berkata, “Tetapi bagaimana mungkin saya sendirian dapat memikul tanggung jawab yang berat untuk membereskan semua persoalanmu?” (Ul. 1:12 - BIS).
Pada waktu itu Musa sendiri memerintahkan supaya ada kepala-kepala yang diangkat atas mereka. Namun ternyata hal itu tidak meringankan beban Musa.
Pada saat pertama kali mereka tiba di batasan Kanaan, mereka mengusulkan supaya mata-mata yang dipilih pergi mengintai tanah itu. Bukannya bertanya kepada Tuhan, Musa mengizinkan mereka langsung memilih 12 pengintai dan ia berkata bahwa hal itu dipandang baik. Akibat dari laporan pengintai itu, Bangsa Israel menjadi takut dan menolak masuk Tanah Perjanjian. Inilah pemberontakan kepada perintah Tuhan. Sebagai akibatnya, setiap orang dewasa yang keluar dari Mesir mati di padang pasir. Hanya Yosua dan Kaleb dari generasi itu yang diizinkan masuk Kanaan. Penyebab kegagalan Bangsa Israel masuk Tanah Perjanjian adalah ketidakpercayaan (Ul. 1:32). Karena itu, marilah dengan iman yang teguh, kita tetap percaya kepada segala janji Allah. Dalam kitab Ibrani dinasehatkan, “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.” (Ibr 4:1).
Demikianlah pengalaman Bangsa Israel menjadi suatu pelajaran dan peringatan bagi kita.

Khotbah kedua: Hukum-hukum Allah (“Hiduplah sekarang dalam kebenaran!”) – Ul. 5-26.
Hukum Taurat itu disusun berdasarkan kesepuluh perintah Allah. Kesepuluh perintah itu merupakan kebenaran Allah. Dalam kitab Ulangan, sepuluh hukum serta undang-undangnya diterangkan dengan jelas. Menurut orang Yahudi, totalnya ada 613 perintah. Perintah-perintah itu adalah perintah Tuhan yang penting dan kudus. Hukum itu harus ditaruh di dahi dan tangan. Perlu dibicarakan di dalam rumah waktu bangun, makan, tidur. Harus ditaruh di ambang pintu rumah.
Apa artinya semua ini? Penyembahan harus kudus.
Orang Israel perlu menyembah di tempat yang dipilih dan ditentukan oleh Tuhan. Tidak boleh ada penyembahan berhala dan ibadah sesat. Ada peraturan tentang orang Lewi dan imam-imam. Sistem ekonomi untuk imam juga ditentukan, dan itulah sebabnya ada peraturan tentang perpuluhan. Orang Lewi semuanya tidak punya tanah tetapi mereka semua hidup dari perpuluhan, supaya mereka berfokus untuk melayani dalam Rumah Tuhan.

Tiga hari raya utama, yaitu Paskah, Hari Raya Tujuh Minggu dan Hari Raya Pondok Daun ditetapkan oleh Allah supaya orang Israel mengingat semua yang dibuat oleh Tuhan dan bersukaria di hadapanNya (Ul. 12-16).
Pemimpin pun harus kudus. Hakim-hakim harus melakukan keadilan. Raja-raja harus takut akan Tuhan dan berpegang kepada segala hukum dan ketetapan Tuhan. Imam-imam dan seluruh suku Lewi harus kudus dan hidup untuk Tuhan. Nabi-nabi harus menyampaikan Firman Tuhan yang benar (Ul. 16-18).
Kemudian, negeri dan masyarakat harus kudus. Secara pribadi dan kolektif (bersama-sama), semua orang harus hidup kudus. Mereka harus bersih tubuh, jiwa dan roh.

Ada hukum-hukum dan undang-undang mengenai saksi-saksi, perang, maupun pembunuhan. Ada peraturan untuk saling menolong dan berlaku adil. Ada undang-undang tentang moralitas yang melarang zinah dan dosa seksual yang lain. Ada undang-undang yang mengatur perceraian. Ada undang-undang yang menuntut keperdulian kepada orang yang miskin. Ada undang-undang tentang masyarakat supaya dapat hidup damai bersama-sama (Ul. 19-25).
Namun setelah semua undang-undang ini, Tuhan mengingatkan Bangsa Israel bahwa mereka adalah umat kesayanganNya yang ditentukan untuk menjadi umat yang kudus (Ul. 26).

Jadi, apa maksud semua hukum Taurat bagi kita?
Hukum Taurat adalah “penuntun” bagi kita sampai Kristus datang (Gal. 3:24).

“Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran--sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu..”, yaitu Kristus (Gal. 3:19).

Hukum Taurat membuktikan bahwa tidak ada manusia yang benar, yang kudus, yang sanggup melakukan semua perintah ini. Dalam hukum Taurat terdapat standar kebenaran Allah. Karena itu, hanya oleh imanlah kita dapat dibenarkan.

Kemudian, karena itulah Kitab Ulangan penting untuk mengajar kita tentang makna dosa dan kebenaran, untuk menyakinkan kita bahwa kita adalah pendosa yang melanggar hukum Allah dan hanya dapat diselamatkan dan dibenarkan oleh iman.

Khotbah ketiga: Suara Profetis (persiapan untuk masa depan) – Ul. 27-36.
Musa sebelum meninggal menantang bangsanya untuk sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Ia mengingatkan mereka tentang sepuluh hukum yang ditulis di dua loh batu. Seluruh Bangsa Israel mendeklarasikan kutuk-kutuk yang berasal dari ketidak-taatan dan berkat-berkat yang berasal dari ketaatan. Mereka memperbaharui perjanjian mereka dengan Tuhan (Ul. 27-29).
Saat itu, ditegaskan bahwa setiap orang punya pilihan untuk taat dan terima atau tolak. Terserah kepada masing-masing pribadi...tetapi ada konsekuensi untuk masing-masing pilihan.

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,” (Ul. 30:19).

Kemudian Yosua ditentukan sebagai pengganti Musa (Ul. 31).
Selanjutnya, Musa menyanyikan nyanyiannya yang terakhir. Dahulu, Musa pernah menyanyi waktu menyebrang Laut Merah (Kel. 17). Sekarang pada saat Bangsa Israel hampir memasuki Tanah Perjanjian, ia menyanyi lagi. Inilah mazmur. Kita dapat melihat bahwa langkah pertama dan langkah terakhir Bangsa Israel ini penuh dengan mazmur, pujian dan penyembahan kepada Tuhan! Saat akhir ini Musa juga bernubuat tentang masa depan setiap suku. Akhirnya ia memberi berkat yang khusus atas Bangsa Israel (Ul. 32-33).

Sesudah Musa mati Yosua menggantikannya. Namun kita juga perlu perhatikan bahwa Musa tidak mati seperti manusia biasa karena mayatnya tidak pernah ditemukan. Dikatakan bahwa ia dikuburkan oleh Tuhan sendiri (Ul. 34; Yud.ayat 9).

Lalu, kita tahu yang selanjutnya, Yosua dan Kaleb memimpin Bangsa Israel memasuki Kanaan, tanah yang telah dijanjikan Tuhan kepada mereka.

Apa pembelajaran yang seharusnya kita peroleh dari Kitab Ulangan ini?
Marilah kita juga mengingat sejarah rencana Allah dari permulaan, mari kita hidup saat ini, setiap hari, dalam iman, kebenaran dan ketaatan kepada Firman Tuhan dan mari kita memandang kepada masa depan dengan menyembah Dia yang akan menggenapi segala perjanjianNya, karena Ia setia untuk selama-lamanya.

KITAB KEJADIAN (BAG 3)

"Yusuf (Kejadian 37-50)"

Kitab Kejadian 1-11 telah membahas permulaan manusia dan dunia ini, selanjutnya Kejadian 12-36 memberi kesaksian tentang kehidupan tiga bapa bangsa Israel yang menerima Perjanjian Allah dan hidup dalam iman. Abraham, bapa segala orang yang percaya adalah teladan bagi semua orang yang mau memiliki perjanjian dalam iman dan pengharapan. Ishak adalah anak tunggal yang menggambarkan Yesus, yang dikorbankan bagi kita untuk keselamatan umat manusia. Yakub adalah contoh seorang yang dengan segala kelemahan dan kekuatannya senantiasa mencari Tuhan.

Selanjutnya dalam Kitab Kejadian 37-50 menceritakan kisah seseorang pada generasi keempat, yaitu Yusuf. Yusuf adalah anak Yakub yang kesebelas, namun Yusuf sangat dibenci oleh kakak-kakaknya. Mengapa Yusuf sangat dibenci oleh kakak-kakaknya? Alasan pertama, karena Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya (Kejadian 37:2). Alasan kedua, karena Yusuf adalah anak pertama dari isteri tercinta Yakub yaitu Rahel, dan Yusuf menjadi anak kesayangan ayahnya. Yakub memberikannya baju yang berwarna-warni dan hal itu menimbulkan kecemburuan bagi kakak-kakaknya (Kejadian 37:3-4). Alasan ketiga adalah, karena saudara-saudaranya mendengar cerita dua mimpi Yusuf, sehingga membuat kakak-kakaknya menjadi lebih semakin kesal dan marah terhadap Yusuf (Kejadian 37:5, 8, 11).

Perjalanan hidup Yusuf.

Cerita perjalanan hidup Yusuf sangat panjang dan unik. Ketika Kakak-kakak Yusuf menjadi begitu marah terhadap Yusuf, mereka sudah merencanakan untuk membunuhnya tetapi kemudian mereka menjualnya kepada saudagar-saudagar Midian yang membawanya ke Mesir (Kejadian 37). Di sanalah Yusuf dijual kepada Potifar sebagai budak. Namun karena Allah beserta Yusuf dan dalam pekerjaannya Yusuf seorang budak yang setia dan bijak, akhirnya segala milik Potifar diserahkan pada kekuasaan Yusuf untuk mengurus segala sesuatu di rumahnya. Dalam pekerjaannya walau digoda oleh isteri Potifar, Yusuf tetap setia dan memilih hidup kudus, namun akibatnya isteri Potifar itu menjadi marah, dan menuduh serta memfitnah Yusuf, sampai akhirnya Yusuf dimasukan ke dalam penjara (Kejadian 39).
Di dalam penjara Yusuf menderita tetapi ia tetap setia, oleh sebab itu ia diangkat untuk mengurus penjara itu. Pada waktu di penjara Yusuf melayani dua pelayan Firaun dengan menafsirkan mimpinya. Ia minta juru minuman untuk mengingatnya apabila bertemu Firaun, Tetapi ternyata ia dilupakan selama dua tahun. Pada waktu Firaun bermimpi dan tidak ada yang bisa menafsirkan mimpinya, barulah Juru minuman ingat akan Yusuf dan Yusuf akhirnya dipanggil untuk menafsirkan mimpi itu (Kejadian 40).
Inilah adalah awal dari kisah yang membuat Yusuf dari seorang yang dibuang dan dipenjarakan, diangkat menjadi pemimpin Mesir oleh Firaun. Selama tujuh tahun kelimpahan ia memerintah atas Mesir dan mengumpulkan makanan (Kejadian 41). Setelah tujuh tahun masa kelimpahan, tujuh tahun masa kelaparan mulai datang dan saudara-saudara Yusuf terpaksa berangkat ke Mesir mencari makanan. Waktu mereka berjumpa dengan Yusuf mereka tidak mengenalnya, tetapi Yusuf mengenal mereka. Ia sangat terharu melihat saudara-saudaranya tetapi ia hendak menguji mereka. Mereka sujud di depannya dan Yusuf melihat mimpinya digenapi. Namun ia tidak langsung menyatakan diri tetapi kembali menguji mereka (Kejadian 42).
Pada waktu saudara-saudaranya terpaksa datang untuk kedua kalinya, Yusuf melihat bahwa saudara-saudaranya sudah bertobat. Mereka mengasihi Benyamin. Mereka membela dan mau menyelamatkan adiknya. Mereka rela mengorbankan diri mereka untuk adiknya. Karena itu Yusuf menyatakan dirinya dan ada rekonsiliasi yang terjadi (Kejadian 43-44). Mereka pulang dengan membawa kabar gembira kepada Yakub orang tua mereka, bahwa anak yang dikasihinya masih hidup di Mesir. Yakub bersama seluruh keluarganya berangkat ke Mesir. Yusuf melindungi dan menolong mereka dengan menyediakan makanan dan mempersiapkan tempat tinggal di Gosyen (Kejadian 45-47).
Pada akhir kehidupannya, Yakub memanggil Yusuf bersama dua anak Yusuf yaitu Efraim dan Manasye. Yakub mengingatkan Yusuf tentang Perjanjian yang diberikan kepada Abraham dan memberikan berkat juga nubuatan khusus kepada kedua anaknya (Kejadian 48). Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya dan ia memberkati, bernubuat dan memberikan pesan kepada kedua belas anak itu.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Ruben kehilangan hak kesulungannya karena perbuatannya yang jahat (Kejadian 49:3-4). Berkat anak sulung dipindahkan kepada Yusuf dan hak melahirkan raja-raja diberikan kepada Yehuda. Demikianlah Perjanjian Abraham, Ishak dan Yakub diteruskan kepada kedua belas anak Yakub (Kejadian 49).
Yakub meninggal, Yusuf dan saudara-saudaranya bersama orang Mesir meratapinya selama 70 hari. Mayatnya dibawa kembali ke Kanaan dan dikubur di gua Makhpela yang telah dibeli oleh Abraham. Sekembalinya ke Mesir saudara-saudaranya sekali lagi menghadap Yusuf karena takut Yusuf masih dendam dan membalaskan kejahatannya, mereka minta ampun lagi. Yusuf menangis dan menegaskan kepada mereka bahwa walaupun mereka telah melakukan kejahatan terhadap dirinya, namun Tuhan membalikkan semuanya menjadi kebaikan untuk pemeliharaan dan keselamatan masyarakat kala itu. Akhirnya Yusuf perintahkan mereka apabila nanti ia meninggal, untuk membawa tulang-tulangnya juga ke Kanaan. Mayatnya di taruh dalam peti mati di Mesir (Kejadian 50), dan hanya dikembalikan waktu bangsa Israel masuk Kanaan di bawah pimpinan Yosua.

Begitu banyak pelajaran yang kita dapat belajar dari cerita Yusuf ini, mari kita lihat di bawah ini.

Pelayanan Yusuf.

Yusuf adalah seorang yang mau belajar untuk melayani. Dia berkarunia tetapi rahasia keberhasilan adalah penyertaan Tuhan. Yusuf penuh dengan Roh Allah dan hikmat (Kejadian 41:38). Ia juga punya karunia nubuatan dan karunia menafsirkanya itu karunia profetis di mana ia dapat menolong orang lain dan menyelamatkan dunia. Ia juga memiliki hati hamba. Dengan segala kerendahan hati dan pengabdian ia siap dipakai entah sebagai budak dalam perhambaan, atau ketika dituduh sebagai penjahat dalam penjara, bahkan ketika ia sebagai pemerintah dalam istana.

Iman Yusuf.
Rahasia kemenangan Yusuf adalah imannya kepada Tuhan. Yusuf punya iman walaupun segala sesuatu yang terjadi bertentangan atau bertolak belakang dari Firman Tuhan yang datang kepadanya dalam bentuk mimpi pada usia 17 tahun. Sepertinya apabila melihat perjalanan awal ketika ia dibuang bahkan ketika di penjara, penggenapan mimpinya makin lama makin mustahil! Menurut mimpinya saudaranya akan tunduk kepadanya. Padahal, mereka membencinya dan mau membunuhnya. Mereka menjatuhkannya di sumur lalu menjualnya sebagai budak ke Mesir. Di Mesir Yusuf kerja dengan baik dan setia sampai naik dalam rumah Potifar menjadi pengawas seluruh miliknya. Namun, karena Yusuf tetap mempertahankan kekudusan, ia dibuang ke dalam penjara. Di penjara walaupun kakinya diimpit dengan belenggu dan lehernya dimasukan ke dalam besi ia tetap menyatakan sikap yang baik sampai dipercayai untuk menjadi pengurus penjara. Seakan-akan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya bertentangan dan bertolak belakang dengan mimpinya, tetapi ia tetap hidup dalam iman, kesabaran dan kebenaran, Mazmur 105:19 berkata, “Sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya.” Walaupun ia harus tunggu bertahun-tahun, dari umur 17 sampai umur 30, akhirnya visinya sudah menjadi kenyataan.
Dalam waktu satu hari ia dikeluarkan dari penjara dan diangkat menjadi penguasa atas seluruh tanah Mesir, untuk memberikan petunjuk kepada para pembesar Mesir sekehendak hatinya dan mengajarkan hikmat kepada para tua-tua Mesir (Mazmur 105:21-22).

Belas Kasihan dan Pengampunan Yusuf.
Karena Yusuf sendiri pernah mengalami penderitaan, Yusuf dapat mempedulikan orang lain yang menderita (Ibrani 2:18). Ia mengerti bahwa Tuhan mengerjakan segala sesuatu untuk kebajikan, semua penderitaan dan kesusahan yang dialaminya ada maksud, supaya melalui dirinya akan membawa keselamatan bagi dunia. Yusuf melihat kakaknya dan langsung ingat akan mimpinya. Ia bersimpati, berkasihan, tetapi ia mau menguji mereka. Perhatikan betapa banyak Yusuf menangis, karena saudara-saudaranya (Kejadian 42:24, 43:30, 45:14-15, 46:29, 50:1).

Yusuf sebagai bayangan Yesus.
Yusuf menjadi gambaran atau bayangan Yesus dalam banyak hal. Yusuf adalah anak yang terkasih dari bapanya sama seperti Yesus adalah Anak Tunggal yang dikasihi (Matius 3:17).
Yusuf diutus oleh ayahnya pergi membawa makanan untuk saudaranya dan diutus turun ke Mesir (Kejadian 45:8), seperti Yesus meninggalkan surga dan diutus oleh Bapa-Nya untuk mencari saudaranya yang hilang (1 Yohanes 4:14).
Yusuf dibenci dan ditolak, dijual dan dianiaya oleh saudaranya yang berniat untuk membunuhnya, demikianlah Yesus juga datang kepada umat-Nya dan bangsa-Nya namun mereka menolak dan membunuh-Nya (Yohanes 1:11).
Yusuf digoda untuk berbuat dosa tetapi ia menang dalam percobaan itu sama seperti Yesus (Ibrani 4:15).
Yusuf diberi visi tentang masa depan, seperti Yesus mengenal masa depan untuk dirinya dan untuk dunia (Matius 24).
Seperti Yusuf diangkat dan semua saudaranya serta segenap orang Mesir sujud kepadanya, demikian juga segala lutut akan bertelut kepada Yesus. (Filipi 2:10).
Sebagaimana hanya ada keselamatan kalau orang pergi kepada Yusuf untuk makanan, demikian juga hanya adalah keselamatan bagi manusia yang mau mencari Yesus (Kisah Para Rasul 4:12).
Yusuf menangisi saudaranya dan Yesus juga menangisi Yerusalem (Lukas 19:41).
Sebagaimana selama 40 tahun tulang Yusuf dibawa dalam perjalanan di padang pasir, kita juga selalu ingat akan tubuh dan darah Yesus sampai masuk tanah perjanjian kita (1 Korintus 11:26).

Ada banyak pelajaran bagi kita dalam kitab Kejadian. Kejadian adalah kitab permulaan. Banyak tema mulai dalam kitab ini dan berakhir dalam kitab Wahyu. Banyak teladan dan contoh serta bayangan-bayangan atau gambaran-gambaran yang sangat berguna dalam melengkapi pengertian kita tentang maksud dan rencana Allah yang kekal dalam masa Perjanjian baru saat ini.

KITAB KEJADIAN (BAG 2)

"Abraham, Ishak dan Yakub: Bapa-Bapa Bangsa Israel"

Dalam pasal-pasal berikut ini kita membaca tentang asal usul bangsa Israel, dimana ada cerita mengenai tiga bapa bangsa Israel yaitu Abraham, Ishak dan Yakub. Pada pasal-pasal ini pun ada penjelasan perjanjian Allah yang menjadi dasar untuk kita dapat memahami hubungan Allah dengan umatnya. Dengan mengenal dan mengerti pengalaman serta perjalanan ketiga orang ini, kita akan lebih memahami maksud abadi Allah untuk membangun hubungan dengan manusia dan membentuk kita menjadi seturut gambar dan rupa Allah.

Abraham : Kejadian 12-22.

Abraham adalah generasi ke-20 dari Adam. Dia hidup kira-kira 2000 tahun sesudah Adam dan 2000 tahun sebelum Yesus. Posisinya dalam sejarah manusia sangat penting. Abraham  adalah bapa bangsa Israel dan juga bapa segala orang yang percaya. Dia adalah sahabat Allah.
Abraham berasal dari kota Ur-Kasdim (Irak). Ia dipanggil untuk meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, dan rumah orangtuanya untuk pergi ke negeri yang akan ditunjukkan kepadanya. Ia menjadi musafir, orang asing dan pendatang. Dalam perjalanan itu di manapun ia berhenti, ia melakukan tiga hal: mendirikan tenda, mendirikan mezbah serta memanggil nama Tuhan, dan menggali sumur untuk mencari air. Semua hal ini menjadi ciri khas manusia yang hidup dan berjalan dengan Allah: selalu maju dan siap ikut Tuhan, hidup dalam penyembahan, doa dan mencari sumber air kehidupan.
Allah berangsur-angsur menyatakan perjanjian kepada Abraham. Perjanjian itu diteguhkan lewat berbagai pengalaman selama bertahun-tahun.
Waktu Abraham meninggalkan Ur-Kasdim, ia diberikan berkat, keturunan dan negeri. Semua bangsa di bumi akan diberkati oleh sebab keturunannya (Kejadian12:1-3). Didasarkan perjanjian itu Abraham berangkat dan mulai berjalan dengan “tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” (Ibrani 11:8-10).
Abraham membawa kemenakannya Lot dalam perjalanannya. Namun hal ini menimbulkan banyak persoalan, dan karena perselisihan antara gembala mereka yang mengurus ternak-ternak yang dibawa, terpaksa merekapun berpisah, dan sesudah itu Tuhan menyuruh Abraham mengarahkan pandangan matanya melihat seluruh negeri. Tuhan janji ia akan memiliki seluruh tanah itu dan keturunannya akan menjadi seperti debu tanah banyaknya (Kejadian 13:14-17).
Lot memilih tinggal di Sodom, namun Lot dan keluarganya ditangkap dan ditawan. Abraham turun dan berperang untuk membebaskannya. Sesudah perang itu, perjanjian berkat diteguhkan oleh perjumpaannya dengan Melkisedek, dengan pemberian perpuluhan dan penerimaan roti dan anggur oleh Abraham (Kejadian 14:18-20). Dan setelah itu Abraham mengadakan korban dan Tuhan menyatakan diriNya dengan perapian yang berasap lewat di antara potongan-potongan daging korban itu sebagai tanda Allah sendiri meneguhkan perjanjian dengan bersumpah demi diriNya sendiri (Ibrani 6:13-14). Tuhan berjanji keturunan  Abraham akan seperti bintang di langit (Kejadian 15:1-21).

Pada waktu Abraham berumur 99 tahun, Tuhan menampakkan diri kepada Abraham sekali lagi, dengan janji bahwa keturunannya akan menjadi banyak bangsa, dan dari keturunannya-lah akan berasal raja-raja, juga mengenai Kanaan yang akan menjadi miliknya selama-lamanya. Sebagai tanda dan meterai perjanjian itu Abraham dan seluruh keturunannya harus disunat (Kejadian17:1-27).

Abraham harus sabar menunggu. Hanya waktu ia sudah berumur 100 tahun dan Sara istrinya  sudah 90 tahun dimana Sara sudah lewat masa subur untuk seorang wanita dapat mengandung anak, barulah janji Allah digenapi dan Ishak lahir. Tuhan sendiri turun dalam bentuk manusia untuk mengunjungi Abraham dan Sara dengan memberitahukan mereka berdua tentang waktu kelahiran Ishak (Kejadian18:1-21).

Pada waktu yang sama Abraham diberitahukan tentang kehancuran yang akan datang atas Sodom. Abraham berdoa syafaat bagi Sodom karena Lot tinggal di Sodom (Kejadian 18:22-33). Abraham pun berkomunikasi dan mengajukan beberapa permintaan kepada Tuhan mengenai orang-orang di kota itu, tetapi pada akhirnya karena tidak ada sampai sepuluh orang benar di sana, hukuman Allah harus dilaksanakan sampai Sodom binasa dan Lot lari dengan dua anaknya tetapi isteri Lot menjadi tiang garam karena menoleh ke belakang. Lot kehilangan segala sesuatu. (Kejadian 19).

Setelah Ishak sudah semakin bertumbuh besar, iman Abraham dicobai dan ia disuruh mengorbankan Ishak anaknya. Abraham taat, dan Allah melihat bukti iman Abraham dengan menyediakan seekor anak domba ganti Ishak dan sekali lagi Allah meneguhkan perjanjian dengan janji berkat dan keturunan yang banyak kepada Abraham (Kejadian 22:15-18).
Allah memberi janjiNya dengan sumpah oleh diriNya. Dari pihak Abraham ada iman. Dia dibenarkan oleh iman bukan oleh perbuatan (Kejadian15:16). Abraham memiliki janji Allah lewat iman dan kesabaran (Ibrani 6:12).
Dalam hal ini, ia menjadi contoh dan teladan bagi kita.
Namun Abraham melakukan beberapa hal yang menunjukkan kelemahannya. Ia pergi ke Mesir waktu masa kelaparan dan menyuruh Sara mengatakan kalau Sara adalah adiknya, bukan isterinya (Kejadian13:10-20). Ia melakukan hal yang sama waktu bertemu dengan Abimelekh. (Kejadian20:1-18). Abraham juga tunduk kepada usulan Sara untuk mengambil Hagar dalam sebuah usaha ‘membantu Tuhan’ menggenapi janjiNya (Kejadian 16). Hasilnya adalah Ismael, seorang anak yang dicintai Abraham tetapi yang akhirnya harus diusir dari rumah. (Kejadian21:9-21).
Semua pahlawan iman juga ada kegagalannya, tetapi mereka akhirnya menang sebab mereka tetap percaya kepada anugerah Tuhan dan dengan tekun terus berpegang kepada janjiNya.

Ishak : Kejadian 21-24.

Ishak disebut “anak yang tunggal”. Ini menjadi kiasan dan bayangan Yesus sebagai Anak Allah yang tunggal. Ishak lahir secara mujizat waktu ibunya berumur 90 tahun dan ayahnya 100 tahun. (Kejadian 21:1-7).
Abraham mengasihi anaknya seperti Bapa mengasihi AnakNya yang tunggal. Ishak harus pikul kayu seperti Yesus memikul salib. Perjalannya tiga hari menuju tempat korban persembahannya, seperti Yesus mati tiga hari. Ishak diikat di mezbah korban bakaran seperti Yesus diikat di salib. Dalam kiasan Ishak bangkit, sebagaimana Yesus bangkit dari kematian (Kejadian 22; Ibrani 11:17-19).
Juga dalam pencarian isteri untuk Ishak ada banyak kiasan. Hamba Abraham mencari pengantin untuk Ishak seperti Roh Kudus bekerja untuk menemukan dan mempersiapkan pengantin bagi Kristus. Calon pengantin Ishak yaitu Ribkah, ditemukan di sumur, tempat sumber air. Hal itu menggambarkan sumur keselamatan, tempat orang haus mencari Tuhan. Ribkah harus melewati percobaan, harus rela berkorban demi menyenangkan Tuhan. Ia harus rela meninggalkan keluarganya untuk mengikut hamba itu, seperti kita juga harus rela ikut Tuhan. Ia diberi hadiah-hadiah dari hamba itu, seperti Roh Kudus memberi karunia kepada kita (Kejadian 24).

Yakub : Kejadian 25-36.

Ishak dan Ribkah melahirkan dua anak kembar yaitu Esau dan Yakub. Esau memiliki hak sulung tetapi ia menjualkannya untuk mendapat sedikit sup kacang merah. Dia menjadi gambaran dan bayangan orang yang hidup menurut daging, yaitu hawa nafsu. Esau tidak menghargai hak kesulungannya. Ia menggangap ringan dan menghina warisan dan perjanjian Allah dan sebagai akibatnya ia kehilangan haknya. Yakub menggambarkan orang rohani yang menghargai hak kesulungan. Walaupun ia menipu saudaranya, hatinya merindukan Tuhan. Karena itu ia didisplin dan dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Ia harus lari tinggalkan rumahnya demi menghindari kemarahan Esau (Kejadian 25:21-34).
Tuhan menemukan Yakub di Betel, di tempat inilah ia menerima visi tentang tangga yang naik ke sorga dan malaikat naik turun. Inilah gambar tubuh Kristus, rumah Allah (Yohanes 1:51).
Di situlah perjanjian yang diadakan oleh Tuhan dengan Abraham dan Ishak diteguhkan juga kepada Yakub. Tiga bapa tersebut masing-masing secara pribadi mengalami perjumpaan dengan Tuhan. (Kejadian 28).
Yakub kemudian bertemu Rahel di sumur dan Yakub jatuh cinta dan hendak menikah dengan Rahel. Namun Yakub harus bekerja tujuh tahun untuk dapat menikah dengan Rahel, tetapi sebagaimana ia sudah menipu ayahnya, ia juga ditipu oleh ayah Rahel. Ketika seharusnya Ia menikah dengan Rahel, ternyata bukan Rahel yang menjadi isterinya, tetapi ia mendapati Lea kakak Rahel yang diserahkan oleh mertuanya untuk menjadi istri Yakub. Selanjutnya ia harus bekerja tujuh tahun lagi untuk Rahel.
Untuk mendapatkan upah, yaitu kawanan domba dan kambing, ia harus kerja tujuh tahun lagi dan ternyata sekali lagi ia ditipu oleh Laban, mertuanya, Laban mengubahkan gajinya sepuluh kali. Yang menipu sudah ditipu! Kita menuai apa yang ditabur! (Kejadian 29-31).
Yakub mendapat dua belas anak yang menjadi bapa dari dua belas suku Israel. Ada multiplikasi yang mulai terjadi. Dasar sudah diletakkan untuk membentuk bangsa (Kejadian 29:31-35 dan Kejadian 30:1-24).

Lewat semua pengalaman hidupnya, karakter Yakub dibentuk. Yakub ketemu dengan Tuhan dan bergumul dengan malaikat Tuhan dan namanya diubah dari Yakub (artinya: ‘penipu’) menjadi Israel (berkuasa sebagai raja di hadapan Allah) (Kejadian 32:28).
Yakub juga harus kembali ke Betel di mana Tuhan sekali lagi meneguhkan perjanjian dengannya (Kejadian 35).

Kiranya ketiga bapa bangsa Israel ini yaitu Abraham, Ishak dan Yakub menjadi inspirasi bagi kita dalam perjalanan hidup kita dengan Tuhan. Kiranya kita dapat belajar dari teladannya yang baik dan juga dari kesalahannya, supaya kita juga menjadi bagian dari perjanjian Allah.